Dugaan Kartel Narkoba di Balik Tewasnya Staf Dubes Indonesia di Peru

You are currently viewing Dugaan Kartel Narkoba di Balik Tewasnya Staf Dubes Indonesia di Peru

Berita tentang tewasnya staf Kedutaan Indonesia di Peru bikin banyak pihak kaget sekaligus prihatin.

Seorang pegawai administrasi bernama Zetro Leonardo Purba ditembak mati saat sedang bersepeda bareng istrinya di dekat apartemen tempat mereka tinggal, di ibu kota Lima.

Pelaku masih misterius dan sampai sekarang polisi Peru sedang melakukan penyelidikan.

Tragedi ini langsung mengundang perhatian pemerintah Indonesia. Menteri Luar Negeri, Sugiono, menyampaikan belasungkawa sekaligus menekankan agar otoritas Peru serius mengusut kasus ini. Jenazah Zetro juga dipastikan akan segera dipulangkan ke Tanah Air.

Kabar ini bukan sekadar soal kriminal biasa.

Banyak yang mulai bertanya-tanya, apakah penembakan ini murni kejahatan jalanan atau ada kaitan dengan situasi yang lebih besar. Apalagi, hubungan Indonesia dan Peru baru saja masuk babak baru lewat kerja sama besar di bidang pemberantasan narkoba.

Babak Baru Hubungan Indonesia–Peru

Beberapa hari sebelum kabar duka ini muncul, sebenarnya ada berita yang cukup positif. Presiden Peru, Dina Boluarte, berkunjung ke Jakarta dan bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka.

Dalam pertemuan itu, kedua negara sepakat menandatangani nota kesepahaman atau MoU yang salah satunya fokus pada kerja sama memberantas narkoba.

MoU ini ditandatangani antara Badan Narkotika Nasional (BNN) dan lembaga anti-narkotika Peru yang dikenal dengan nama DEVIDA.

Intinya, kedua negara komitmen untuk bareng-bareng melawan produksi, distribusi, sampai perdagangan narkotika lintas negara. Bukan hal kecil, karena kita tahu Indonesia punya hukum yang sangat ketat terhadap narkoba, sementara Peru adalah salah satu produsen utama daun coca, bahan baku kokain.

Selain isu narkotika, kunjungan itu juga menghasilkan kerja sama perdagangan.

Misalnya, Indonesia akhirnya membuka pintu bagi buah blueberry dari Peru, dan sebaliknya, peluang investasi Indonesia di Peru juga makin terbuka. Jadi, dari sisi diplomasi, sebenarnya hubungan kedua negara lagi naik level.

Tapi justru di tengah momen penting ini, muncul tragedi penembakan staf KBRI. Hal inilah yang bikin spekulasi bermunculan, apakah ada pihak yang merasa kepentingannya terganggu oleh kerja sama baru ini.

Peru dan Bayang-Bayang Narkotika

Kalau ngomongin Peru, nggak bisa lepas dari isu narkotika. Negara di Amerika Selatan ini dikenal sebagai salah satu produsen utama coca, tanaman yang jadi bahan dasar kokain.

Menurut laporan PBB, Peru bahkan pernah menyalip Kolombia sebagai penghasil coca terbesar di dunia.

Walaupun ada upaya eradikasi atau penggantian tanaman dengan kopi dan kakao, kenyataannya bisnis coca masih jadi lahan empuk bagi jaringan kriminal.

Yang bikin rumit, produksi coca ini sering terkait dengan sisa-sisa kelompok bersenjata lama seperti Shining Path. Mereka beroperasi di kawasan VRAEM (Valle de los Rios Apurimac, Ene, dan Mantaro), wilayah pegunungan yang sulit dijangkau aparat. Di sana, kartel narkoba juga ikut bermain, termasuk kartel besar asal Meksiko, Kolombia, bahkan Brasil.

Hasilnya bisa ditebak, kekerasan meningkat di beberapa kota pesisir utara Peru. Kota-kota seperti Trujillo, Tumbes, dan Chimbote sering disebut jadi sarang operasi kartel.

Walaupun tingkat kriminalitas Peru secara nasional tergolong rendah dibanding negara Amerika Latin lain, kota-kota tertentu punya angka pembunuhan yang cukup tinggi, mirip dengan kawasan rawan di Amerika Tengah.

Dengan kondisi seperti ini, nggak heran kalau ada pihak yang khawatir kerja sama Indonesia–Peru dalam memerangi narkoba bakal bikin kartel merasa bisnisnya terancam. Dan di titik inilah muncul dugaan, apakah tragedi di Lima yang menimpa staf KBRI ada hubungannya dengan perlawanan dari jaringan gelap narkotika.

Dugaan Motif di Balik Penembakan

Hingga sekarang, pelaku penembakan terhadap Zetro Leonardo Purba memang belum terungkap. Polisi Peru masih melakukan penyelidikan dan pemerintah Indonesia menekan agar kasus ini diselesaikan tuntas. Tapi di luar proses resmi itu, muncul pertanyaan besar: kenapa seorang staf kedutaan bisa jadi target?

Ada dugaan bahwa kasus ini tidak bisa dilepaskan dari konteks perang melawan narkoba. Dengan adanya MoU antara Indonesia dan Peru, kartel bisa saja merasa bisnis mereka bakal semakin sempit.

Kita tahu, Indonesia terkenal sangat keras terhadap kasus narkoba. Hukuman mati untuk penyelundup bukan hal asing. Sementara itu, Peru jadi salah satu pemasok utama coca untuk jaringan kokain dunia. Kombinasi ini tentu bikin pihak-pihak tertentu nggak nyaman.

Kalau ditarik ke belakang, beberapa kasus juga pernah melibatkan warga Peru di Indonesia.

Ada yang kedapatan membawa kokain ke Bali, ada juga yang coba menyelundupkan narkoba lewat bandara internasional.

Artinya, jalur antara dua negara ini memang sudah lama diincar sindikat. Jadi, bukan hal mustahil kalau penembakan ini punya pesan tersirat: semacam peringatan dari kartel yang merasa terancam.

Meski begitu, semua ini masih berupa dugaan. Tanpa bukti kuat, spekulasi ini belum bisa dikatakan final.

Namun, melihat pola kekerasan kartel di berbagai negara Amerika Latin, asumsi bahwa jaringan narkoba bisa berada di balik insiden ini memang masuk akal.

Reaksi Pemerintah dan Tindakan Resmi

Tragedi ini langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah Indonesia.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban sekaligus menegaskan bahwa otoritas Peru harus melakukan investigasi menyeluruh.

Ia juga sudah menginstruksikan Duta Besar Indonesia di Lima, Ricky Suhendar, untuk terus memantau perkembangan penyelidikan serta mengurus proses pemulangan jenazah ke Tanah Air.

Di sisi lain, kepolisian Peru sudah meluncurkan investigasi untuk melacak dan menangkap pelaku. Namun, sejauh ini identitas penembak belum terungkap.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik soal keamanan di Lima, khususnya bagi para diplomat dan warga asing yang tinggal di sana.

Langkah resmi ini penting bukan hanya untuk memberikan keadilan bagi keluarga Zetro, tapi juga sebagai sinyal bahwa Indonesia serius menjaga keselamatan warganya di luar negeri.

Apalagi, jika benar ada kaitan antara penembakan ini dengan jaringan narkoba, kasus ini bisa jadi jauh lebih besar dari sekadar kejahatan jalanan.

Dampak Lebih Luas dari Kasus Ini

Kasus penembakan Zetro jelas bukan cuma soal keamanan pribadi seorang staf kedutaan. Kalau ditarik lebih jauh, ada banyak hal yang bisa terdampak.

Pertama, kerja sama Indonesia–Peru dalam memberantas narkoba bisa menghadapi tantangan besar. Kartel yang merasa terdesak biasanya akan merespons dengan cara-cara keras, dan ini bisa mengganggu implementasi MoU yang baru ditandatangani.

Kedua, insiden ini jadi alarm tentang keamanan warga Indonesia di luar negeri, khususnya di negara-negara yang punya rekam jejak kuat dalam perdagangan narkoba. Kalau memang benar ada keterlibatan jaringan kartel, maka ancaman terhadap diplomat bisa meningkat, bukan hanya di Peru, tapi juga di negara lain yang sedang “berperang” dengan narkotika.

Ketiga, tragedi ini bisa mempengaruhi citra Peru sebagai mitra internasional. Di satu sisi, negara itu sedang membangun reputasi lewat kerja sama ekonomi dan perdagangan. Tapi di sisi lain, kasus seperti ini menunjukkan betapa seriusnya masalah keamanan akibat jaringan narkoba di sana.

Bagi Indonesia, kasus ini bisa jadi pengingat bahwa perang melawan narkoba nggak cuma soal mengamankan dalam negeri, tapi juga harus siap menghadapi risiko lintas batas.

Dan kalau memang benar penembakan ini ada kaitannya dengan kartel, artinya Indonesia sekarang sudah ikut masuk ke “peta besar” pertarungan narkoba global.

Penutup

Kasus tewasnya staf Kedutaan Indonesia di Peru jadi pengingat keras bahwa perang melawan narkoba bukan urusan kecil.

Tragedi yang menimpa Zetro Leonardo Purba bisa jadi sekadar tindak kriminal biasa, tapi bisa juga punya dimensi lebih luas jika benar ada keterkaitan dengan jaringan kartel.

Apapun motifnya, jelas bahwa Indonesia dan Peru kini berada di garis depan perlawanan terhadap narkoba.

Kesepakatan yang baru ditandatangani di Jakarta seharusnya bukan hanya simbol, tapi harus ditindaklanjuti dengan langkah nyata yang juga memperhatikan aspek keamanan diplomat dan warga negara.

Bagi publik, kasus ini juga membuka mata tentang bagaimana narkotika bukan cuma merusak generasi muda, tapi juga bisa mengancam nyawa mereka yang berusaha memberantasnya. Kartel bukan lawan biasa, mereka punya jaringan luas dan cara bermain yang ekstrim.

Akhirnya, meskipun penyelidikan masih berjalan, tragedi di Lima ini memberi pesan penting: kerja sama internasional untuk melawan narkoba tidak akan berjalan mulus tanpa resiko. Dan mungkin, justru karena resikonya besar, komitmen melawan narkoba harus semakin diperkuat, bukan dilemahkan.